Rupiah Melemah ke Rp17.850 Pagi Ini

CAPITALNEWS.ID – Nilai tukar rupiah dibuka dengan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa pagi (23/6/2026). Mata uang Garuda mengalami depresiasi yang cukup terasa di tengah penguatan indeks dolar AS yang berkelanjutan di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.850/US$ dengan pelemahan sebesar 0,14% pada pembukaan perdagangan pagi ini. Kondisi ini merupakan kelanjutan dari pelemahan pada sesi sebelumnya, di mana pada Senin (22/6/2026), rupiah ditutup pada posisi Rp17.825/US$ dengan penurunan 0,28%.
Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia menunjukkan penguatan yang konsisten. Per pukul 09.00 WIB, DXY terpantau menguat sebesar 0,02% ke level 101,040, melanjutkan momentum kenaikan dari sesi perdagangan sebelumnya ketika indeks tersebut naik 0,17%.
Pergerakan mata uang Garuda pada hari ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang kuat, khususnya dinamika dolar AS di pasar internasional. Penguatan dolar AS terjadi seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap potensi pemeliharaan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang di Amerika Serikat.
Keyakinan ini muncul setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50% hingga 3,75%. Keputusan ini didukung oleh proyeksi suku bunga terbaru dari The Fed melalui dot plot yang mengindikasikan peluang suku bunga tetap tinggi bertahan dalam periode yang lebih panjang dari perkiraan sebelumnya.
Bahkan, sejumlah pejabat The Federal Reserve masih mempertahankan proyeksi terdapat potensi kenaikan suku bunga pada rapat kebijakan moneter berikutnya. Ekspektasi ini menjadi faktor utama yang mendorong investor global untuk tetap tertarik pada aset denominasi dolar AS, sehingga meningkatkan permintaan terhadap mata uang tersebut.
Meskipun demikian, penguatan dolar AS mengalami pembatasan akibat perkembangan positif dalam jalur negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Di Swiss, perundingan tingkat tinggi antara kedua negara tersebut berakhir dengan kondisi yang dinilai cukup positif, meskipun sempat diwarnai sejumlah hambatan teknis selama proses negosiasi.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani memorandum of understanding yang mencakup 14 poin kesepakatan komprehensif. Salah satu komitmen utama dalam dokumen tersebut adalah pelaksanaan masa gencatan senjata selama 60 hari untuk membahas solusi jangka panjang bagi penyelesaian konflik yang berkelanjutan.
Sebagai bagian integral dari kesepakatan awal ini, Amerika Serikat sepakat untuk mencabut blokade laut yang telah diterapkan terhadap Iran sebagai bagian dari sanksi ekonomi. Secara paralel, Iran kembali membuka Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan maritim vital untuk transportasi minyak global.
Meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global menyebabkan harga minyak mengalami penurunan. Kondisi ini berdampak pada melemahnya tekanan inflasi di pasar internasional, yang pada akhirnya menahan momentum penguatan dolar AS agar tidak berlanjut lebih dalam.
Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan optimisme bahwa penerbitan Panda Bond akan berkontribusi signifikan dalam memperkuat nilai tukar rupiah ke depan. Keyakinan ini didasarkan pada struktur penerbitan yang menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT), sehingga tidak memerlukan konversi ke dolar AS dalam proses transaksinya.
“Saya lagi pikir juga mungkin nanti penerbitan Panda Bond kita pakai LCT saja di mana mereka cuma bayarnya pakai yuan, bank central di sana sama di sini atur, pokoknya saya terima rupiah, jadi saya tidak terpengaruh fluktuasi atau tekanan dari dolar,” kata Purbaya saat mengikuti rapat kerja dengan Komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia di Jakarta pada Senin (22/6/2026).
Menurut pemaparan Menteri Keuangan, Panda Bond menjadi instrumen strategis karena menjadi bagian penting dari upaya diversifikasi surat utang pemerintah Indonesia. Tujuan akhir dari strategi ini adalah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan secara bertahap mengurangi ketergantungan yang berlebihan terhadap dolar AS dalam pembiayaan pemerintah.
“Jangan dolar base saja, tapi ke yuan base kan sama besarnya itu negara kan, dia kedua terbesar di dunia dan kita punya bilateral swap agreement dengan China, local currency transaction, katanya BI dengan di sana. Jadi dengan cara itu tekanan ke rupiah akan melemah secara signifikan,” papar Purbaya lebih lanjut.
Strategi penerbitan Panda Bond melalui mekanisme Local Currency Transaction mencerminkan upaya pemerintah untuk membuka opsi pembiayaan alternatif yang tidak bergantung pada dolar AS. Dengan melibatkan yuan China sebagai denominasi, Indonesia dapat mengurangi eksposur terhadap fluktuasi kurs dolar sekaligus memanfaatkan bilateral swap agreement yang telah disepakati dengan Bank Sentral China.
Artikel ini merupakan rangkuman berita pasar modal Indonesia.
(JW)

