PGEO Cetak Laba Rp1,4 Triliun, Naik 15,48% Year-on-Year

CAPITALNEWS.ID – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berhasil mencatat pertumbuhan laba yang signifikan pada kuartal II/2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$79,607 juta atau setara Rp1,44 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.069 per US$), meningkat 15,48% secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang solid. Pada kuartal II/2026, PGEO mencatat pendapatan sebesar US$235,027 juta atau setara Rp4,24 triliun per kuartal, meningkat 14,7% yoy dibandingkan dengan pendapatan kuartal II/2025 yang mencapai US$204,850 juta.

Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan bahwa capaian ini merupakan cerminan dari konsistensi perseroan dalam menjalankan strategi bisnis yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Pertumbuhan pendapatan tersebut tercermin jelas pada peningkatan laba bersih perseroan yang naik 15,48% secara tahunan menjadi US$79,607 juta.

“Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional,” ujar Fransetya melalui keterangan resmi pada Jumat (31 Juli 2026).

Pertumbuhan laba PGEO ditopang oleh beberapa faktor utama, termasuk peningkatan produksi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan keandalan operasional yang optimal. Selain itu, perseroan juga mendapat manfaat dari keuntungan selisih kurs yang positif.

Hingga semester I/2026, total produksi PGEO mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), meningkat signifikan sebesar 13,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.416 GWh. Peningkatan produksi ini menunjukkan efektivitas operasional dari seluruh fasilitas pembangkit milik perseroan.

Performa PGEO juga menunjukkan tren akselerasi yang konsisten sepanjang tahun 2026. Pada kuartal I/2026, perseroan mencatat laba bersih sebesar US$43,899 juta, kemudian mengalami pertumbuhan signifikan sehingga mencapai akumulasi laba bersih US$79,607 juta pada akhir kuartal II/2026.

Dari sisi permodalan, posisi keuangan PGEO menunjukkan fondasi yang sehat. Ekuitas perseroan tercatat sebesar US$2,006 miliar pada kuartal II/2026, mencerminkan kemampuan yang kuat dalam memenuhi kewajiban sekaligus menghasilkan laba yang berkelanjutan.

Di sisi lain, manajemen liabilitas PGEO juga menunjukkan peningkatan. Liabilitas Perseroan justru turun 2,80% dibandingkan 31 Desember 2025 menjadi US$961,184 juta. Penurunan ini berdampak positif terhadap penguatan struktur modal serta penurunan risiko keuangan perseroan secara keseluruhan.

Langkah Strategis Menuju 100 Tahun Panas Bumi Indonesia

Tahun 2026 menandai momentum penting bagi industri panas bumi Indonesia, yakni memasuki 100 tahun perjalanan energi terbarukan ini. Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi untuk mempercepat pengembangan energi bersih di Tanah Air.

Panas bumi merupakan pilar strategis dalam sistem energi nasional karena sifatnya yang bersih, andal, dan merupakan sumber base load yang cocok untuk menopang sistem kelistrikan di tengah transisi energi yang sedang berlangsung.

“Momentum 100 tahun ini adalah pengingat betapa luar biasanya kekayaan alam Nusantara. Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70% energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami,” ucap Ahmad.

Sejalan dengan hal tersebut, perkembangan sektor energi baru terbarukan (EBT) turut menunjukkan arah yang semakin positif. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025 hingga 2034 menargetkan porsi EBT mencapai 76%, dengan panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW) selama periode tersebut.

Target Ekspansi Kapasitas yang Ambisius

Untuk mendukung pencapaian target nasional tersebut, PGEO menargetkan peningkatan kapasitas terpasang sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan mencapai 1,8 GW pada 2033. Target ini merupakan bagian dari strategi ekspansi jangka panjang perseroan untuk memaksimalkan potensi panas bumi di Indonesia.

Saat ini, Perseroan mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), serta berkontribusi signifikan terhadap pasokan listrik di berbagai daerah di seluruh nusantara.

Dengan mengelola sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGEO menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung sistem kelistrikan nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan. Kehadiran perseroan di berbagai wilayah kerja strategis memastikan distribusi energi bersih yang merata ke seluruh pelosok Indonesia.

Artikel ini merupakan rangkuman berita pasar modal Indonesia.

(JW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button