INCO Laba Terbang 313%, Saham Siap Naik ke Rp 8.000

CAPITALNEWS.ID – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menunjukkan pemulihan kinerja yang mengesankan pada kuartal II-2026, dengan laba bersih yang melonjak signifikan mendorong analis merekomendasikan peningkatan posisi beli saham emiten pertambangan nikel tersebut.
Berdasarkan analisis dari BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), kinerja INCO pada periode kuartal II-2026 mencatat prestasi gemilang. Pendapatan perusahaan mencapai US$ 290 juta, mengalami kenaikan 14,9% secara quarter-on-quarter (qoq) dan 31,9% year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) nikel yang mencapai US$ 14.765 per ton.
Metrik profitabilitas juga menunjukkan tren positif. EBITDA INCO di kuartal II-2026 mencapai US$ 114 juta dengan pertumbuhan 27,8% qoq, sementara laba bersih mencapai US$ 61 juta dengan pertumbuhan 39,3% qoq. Margin keuntungan kotor meningkat signifikan menjadi 32,9% dibandingkan 22,5% pada kuartal pertama 2026, didorong oleh penurunan biaya operasional tunai (cash cost) yang lebih rendah serta efisiensi operasional yang kuat.
Jika dilihat dari kinerja semester pertama 2026, pencapaian INCO semakin memukau. Pendapatan untuk enam bulan pertama tahun 2026 mencapai US$ 543 juta, meningkat 27,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan telah mencapai 35,2% dari proyeksi full year 2026. Laba bersih semester pertama mencapai US$ 104 juta, yang merepresentasikan pertumbuhan ekslosif sebesar 313,4% year-on-year dan telah mencapai 41,3% dari proyeksi laba bersih full year 2026.
Margin keuntungan kotor untuk semester pertama meningkat drastis menjadi 28,0% dari sebelumnya 7,1% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, margin EBITDA juga mengalami peningkatan signifikan dari 20,4% menjadi 37,4%, menunjukkan perbaikan fundamental bisnis yang menyeluruh.
Dari sisi operasional, BRIDS menyoroti pemulihan produksi nickel matte INCO yang mencapai 16,2 kilotannes (kt), naik 18,6% qoq setelah selesainya proses pembangun ulang Furnace 3. Pencapaian ini merupakan tahapan penting dalam normalisasi operasional perusahaan pasca perbaikan infrastruktur produksi.
Penjualan bijih nikel mencatatkan lonjakan yang jauh lebih dramatis, meningkat ke 2,33 juta wet metric tons (wmt) dengan pertumbuhan 139,3% qoq. Peningkatan ini didukung oleh dampak ramp-up dari operasi Bahodopi dan Pomalaa yang semakin matang. Namun, penjualan nickel matte tetap relatif flat, meskipun harga realisasi yang lebih tinggi berhasil mengimbangi volume shipment yang masih lebih rendah dari kapasitas penuh.
Strategi diversifikasi INCO menuju penjualan bijah nikel melalui fasilitas Bahodopi dan Pomalaa menunjukkan fleksibilitas dalam mix produk yang semakin baik. Hal ini membantu perusahaan mengkomensasi kondisi shipment nickel matte yang masih dalam proses normalisasi. Analis BRIDS memandang strategi ini sebagai langkah yang bijak untuk memaksimalkan pendapatan di tengah volatilitas harga pasar.
Evaluasi dari BRIDS terhadap laporan keuangan kuartal II-2026 mengkonfirmasi tesis pemulihan yang telah disampaikan sebelumnya dengan angka-angka konkret yang solid. Menurut BRIDS, recovery story dari INCO sudah tervalidasi dengan data faktual, bukan sekadar proyeksi atau harapan optimis.
Narasi utama pemulihan INCO, menurut BRIDS, adalah kombinasi dari dua faktor kunci. Pertama, perbaikan harga nikel di pasar global yang memberikan tailwind harga bagi eksportir seperti INCO. Kedua, normalisasi operasional pasca selesainya pembangun ulang Furnace 3 yang menghasilkan margin expansion yang signifikan. Kedua faktor ini bekerja sinergis menciptakan lingkungan bisnis yang sangat favorable untuk INCO.
Pada sesi perdagangan pertama hari Kamis, 30 Juli 2026, saham INCO menunjukkan respons positif dari pasar. Harga saham melompat 5,60% naik ke level Rp 4.900 dari level pembukaran sebelumnya. Meskipun demikian, harga saham masih berada di rentang Rp 4.000-an, jauh di bawah target harga yang diberikan oleh BRIDS.
BRIDS merekomendasikan buy status (maintained) untuk saham INCO dengan target harga sebesar Rp 8.000. Dengan harga saham saat ini berada di sekitar Rp 4.900, terdapat potensi upside sebesar 63% menuju target harga BRIDS. Proyeksi ini memberikan kesempatan investasi yang menarik bagi investor retail yang ingin mengambil posisi di salah satu emiten pertambangan nikel terbesar di Indonesia.
Menurut BRIDS, hasil kinerja kuartal II-2026 INCO memberikan validasi konkret terhadap cerita pemulihan yang sebelumnya masih dalam fase proyeksi. Kombinasi dari normalilsasi operasional dan dukungan harga pasar nikel menciptakan momentum yang kuat untuk pertumbuhan profitabilitas di periode-periode mendatang, asalkan kondisi pasar komoditas tetap supportif.
Artikel ini merupakan rangkuman berita pasar modal Indonesia.
(JW)

