Bitcoin Turun 3% Minggu Ini, Ether Melemah 7%

CAPITALNEWS.ID – Pasar cryptocurrency mengalami tekanan negatif dalam pekan ini, dengan Bitcoin mencatat penurunan 3% sejak awal minggu hingga 13 Oktober 2026. Selain Bitcoin, cryptocurrency utama lainnya juga menunjukkan performa yang lebih buruk, mencerminkan kondisi pasar digital yang bergejolak dan membutuhkan perhatian investor Indonesia yang aktif di segmen aset kripto.

Data mingguan menunjukkan bahwa dari tiga cryptocurrency terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar yang dimonitor, semuanya mengalami koreksi. Ether, cryptocurrency native dari blockchain Ethereum yang diluncurkan pada Juli 2015, mencatat penurunan yang lebih dalam dibandingkan Bitcoin dengan performa turun 7% dalam periode yang sama. Sementara itu, XRP yang dimiliki oleh Ripple dan diluncurkan pada 2012 mengalami tekanan paling berat di antara ketiganya dengan penurunan mencapai 9% dalam minggu ini.

Kondisi year-to-date (YTD) menunjukkan volatilitas yang lebih signifikan. Bitcoin yang merupakan cryptocurrency pertama dan paling dikenal di dunia ini, sejak pertama transaksi di awal 2009 dan menjadi aset keuangan arus utama, tercatat turun sekitar 5% sejak awal tahun 2026. Performa Bitcoin saat ini berada sekitar 33% di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada Oktober 2025.

Ether menunjukkan penurunan yang lebih drastis dalam performa tahunan, turun sekitar 16% year-to-date. Cryptocurrency dengan dua kapitalisasi pasar terbesar ini saat ini berada sekitar 48% di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada Agustus 2025. Data ini menunjukkan bahwa meskipun Ether memiliki fundamental berbeda dengan Bitcoin, volatilitas tetap menjadi karakteristik utama dari aset digital ini.

XRP mengalami tekanan paling berat di antara ketiga cryptocurrency yang dianalisis. Aset digital ini yang dulunya merupakan salah satu cryptocurrency terbesar sebelum token-token baru memasuki pasar, tercatat turun sekitar 26% year-to-date. Performa XRP berada sekitar 62% di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada Oktober 2025, menunjukkan tantangan signifikan bagi investor yang mempertahankan posisi dalam aset ini.

Penting untuk memahami bahwa cryptocurrency adalah aset digital yang dirancang untuk berfungsi sebagai medium pertukaran yang menggunakan kriptografi untuk mengamankan transaksi, mengontrol pembuatan unit tambahan, dan memverifikasi transfer aset. Bitcoin dikenal sebagai cryptocurrency terdesentralisasi pertama di dunia dan telah berkembang menjadi aset finansial arus utama yang diakui secara global.

Meskipun sering bergejolak seperti yang terlihat dalam pola historisnya, Bitcoin dapat dikatakan sangat resilien, terutama karena inovasi produk terus memperluas cara investor dapat mengelola volatilitas aset ini. Begitu pula dengan Ether yang berjalan di platform blockchain Ethereum, cryptocurrency ini memiliki perbedaan fundamental yang perlu dipahami oleh investor retail Indonesia sebelum membuat keputusan investasi.

Lanskap cryptocurrency investment di Indonesia telah berkembang pesat sejak persetujuan SEC terhadap spot Bitcoin ETF pada 10 Januari 2024. Berbagai penerbit menawarkan produk ekuivalen yang memberikan akses kepada investor terhadap Bitcoin dengan cara yang lebih terstruktur. Penerbit-penerbit tersebut meliputi Grayscale Bitcoin Trust ETF (GBTC), iShares Bitcoin Trust (IBIT), Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC), ARK 21Shares Bitcoin ETF (ARKB), Bitwise Bitcoin ETF (BITB), dan Coinshares Valkyrie Bitcoin Fund (BRRR).

Pada 23 Juli 2024, beberapa spot Ether ETF juga diluncurkan dari berbagai penerbit yang memberi investor alternatif untuk mendapatkan eksposur terhadap Ether melalui instrumen yang lebih tradisional. Penerbit-penerbit ini meliputi Grayscale Ethereum Trust (ETHE), Franklin Ethereum ETF (EZET), Bitwise Ethereum ETF (ETHW), iShares Ethereum Trust (ETHA), dan Fidelity Ethereum ETF (FETH). Diversifikasi instrumen investasi cryptocurrency ini memberikan pilihan yang lebih luas bagi investor Indonesia untuk mengelola risiko mereka.

Analisis perbandingan antara Bitcoin, Ether, dan XRP menunjukkan bahwa meskipun ketiga cryptocurrency memiliki sejarah harga yang sangat berbeda, semuanya telah menunjukkan volatilitas yang signifikan. Menggunakan skala logaritmik dalam analisis membantu mengilustrasikan perubahan persentase relatif dan tren pertumbuhan jangka panjang, bukan hanya fluktuasi harga absolut. Sejak November 2017, ketiga cryptocurrency ini telah menempati posisi teratas di berbagai titik waktu, namun Bitcoin saat ini memimpin dalam perbandingan kinerja relatif.

Bagi investor Indonesia yang tertarik dengan cryptocurrency, penting untuk memahami perbedaan fundamental antara Bitcoin dan Ether sebelum membuat keputusan investasi. Kedua aset ini dianggap sebagai high-risk assets, namun memiliki karakteristik dan use case yang berbeda. Bitcoin lebih difokuskan sebagai media penyimpan nilai dan transaksi, sementara Ether berfungsi dalam ekosistem aplikasi terdesentralisasi di blockchain Ethereum.

Volatilitas yang ditunjukkan oleh ketiga cryptocurrency ini dalam minggu terakhir mencerminkan sentimen pasar yang lebih luas terhadap sektor digital assets. Investor retail yang mempertimbangkan untuk memasuki pasar cryptocurrency sebaiknya memahami karakteristik high-risk dari aset-aset ini dan mempertimbangkan ekspektasi return jangka panjang mereka.

Artikel ini merupakan rangkuman berita pasar modal Indonesia.

(JW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button