IPO Jumbo RI Tunjukkan Hasil Beragam, BUKA Tertekan AMMN Menonjol

CAPITALNEWS.ID – Gelombang penawaran umum perdana (IPO) jumbo yang mewarnai pasar modal Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukkan perjalanan yang sangat beragam. Emiten-emiten besar seperti PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) membuktikan bahwa besarnya dana yang diraih saat penawaran perdana tidak otomatis menjamin performa saham yang sama gemilangnya setelah melantai di bursa.
Besarnya dana IPO bukan faktor utama yang menentukan kinerja saham setelah listing di Bursa Efek Indonesia. Pada akhirnya yang menentukan adalah pertumbuhan laba, valuasi perusahaan, kualitas manajemen, serta prospek industri. Sebagian dari emiten-emiten jumbo ini masih berupaya membangun kembali kepercayaan investor, sementara yang lain mulai menunjukkan pertumbuhan bisnis yang lebih solid dan prospek yang menjanjikan.
BUKA: Rekor IPO Terbesar Namun Harga Terus Tertekan
PT Bukalapak.com Tbk. masih memegang posisi sebagai pemegang rekor IPO terbesar di Indonesia dengan menghimpun dana sekitar Rp21,9 triliun pada tahun 2021. Namun, pencapaian ini tidak diikuti dengan performa harga saham yang mengesankan. Harga saham BUKA kini berada di level Rp111 per saham, mengalami penurunan drastis sekitar 86,94% dari harga IPO semula yang mencapai Rp850 per saham.
Meskipun menghadapi tekanan harga saham yang signifikan, kinerja fundamental perseroan tetap menunjukkan fluktuasi yang cukup bergejolak. Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana mengungkapkan bahwa fluktuasi laba BUKA masih banyak dipengaruhi oleh keuntungan maupun kerugian yang belum terealisasi (unrealized gains/losses). Menurutnya, perubahan laba tersebut sebagian besar berasal dari keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi, bukan dari operasional bisnis inti perusahaan.
Victor juga mengungkapkan bahwa strategi pembagian dividen belum menjadi pilihan yang tepat dalam jangka pendek. Perseroan tetap menargetkan dapat membagikan dividen hanya ketika profitabilitas dan adjusted EBITDA telah mencapai skala yang memadai dan berkelanjutan. Fokus manajemen saat ini lebih pada efisiensi operasional dan memanfaatkan posisi kas yang kuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.
GOTO: Mulai Menunjukkan Perbaikan Fundamental
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. menunjukkan tanda-tanda perbaikan fundamental yang lebih positif dibandingkan kompetitor sejenis. Emiten teknologi ini berhasil mencatat laba bersih Rp257,94 miliar pada kuartal pertama 2026, berbalik dari posisi rugi bersih yang terjadi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini menunjukkan perbaikan manajemen operasional dan efisiensi biaya yang lebih baik.
Kendati demikian, harga saham GOTO masih bertahan di kisaran Rp50 per saham, jauh di bawah harga penawaran umum perdana awal sebesar Rp338 per saham. Presiden Direktur & Group CEO GOTO Hans Patuwo mengungkapkan bahwa perseroan telah mencapai adjusted EBITDA Rp907 miliar pada kuartal I/2026, yang merupakan pencapaian penting dalam perjalanan menuju profitabilitas yang berkelanjutan.
Hans juga menjelaskan bahwa perseroan memilih untuk tetap konservatif dan tidak menaikkan panduan bisnis di tengah ketidakpastian makro ekonomi yang masih berlangsung. Strategi ini ditujukan untuk membangun fondasi bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan untuk pertumbuhan jangka panjang, sehingga tidak tergantung pada ekspansi agresif yang berisiko tinggi.
MTEL: Kinerja Stabil dengan Dividen Rutin
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk., yang merupakan anak usaha dari Telkom Indonesia, menunjukkan kinerja yang relatif stabil sejak melantai di Bursa Efek Indonesia. Emiten infrastruktur telekomunikasi ini telah merintis tradisi pembagian dividen yang konsisten sejak tahun buku 2022. Model bisnisnya yang menghasilkan arus kas stabil menjadi fondasi kuat untuk terus memberikan return kepada pemegang saham.
Meskipun harga saham MTEL masih berada di bawah level penawaran umum perdana, perseroan berhasil membangun kepercayaan investor melalui konsistensi pembayaran dividen dan operasional bisnis yang terukur. Kualitas fundamental MTEL dinilai termasuk yang terbaik di antara emiten-emiten IPO jumbo lainnya, didukung oleh pendapatan berulang dari kontrak jangka panjang, arus kas yang stabil, dan margin keuntungan yang tinggi.
AMMN: Kinerja Pasar Paling Menonjol
PT Amman Mineral Internasional Tbk. menjadi salah satu kisah sukses IPO jumbo dengan kinerja pasar yang paling menonjol di antara emiten-emiten sejenis. Perusahaan tambang tembaga dan emas ini berhasil menghimpun dana Rp10,73 triliun saat melakukan penawaran umum perdana pada tahun 2023. Dari harga IPO awal sebesar Rp1.695 per saham, saham AMMN telah mencapai level Rp4.290 per saham, mencerminkan apresiasi signifikan sebesar sekitar 153% dari harga penawaran awal.
Perseroan juga mencatat laba bersih US$162 juta pada kuartal pertama 2026, yang merupakan pencapaian laba yang sangat solid. Meskipun hingga saat ini belum membagikan dividen kepada pemegang saham, prospek bisnis AMMN tetap menarik dengan beberapa katalis pertumbuhan yang kuat di depan mata. Perusahaan memiliki cadangan tambang jangka panjang yang memastikan kesinambungan produksi, sedang membangun fasilitas smelter untuk hilirisasi, dan memanfaatkan tren peningkatan permintaan tembaga dan emas yang didorong oleh perkembangan kendaraan listrik, pusat data, kecerdasan buatan, dan energi terbarukan.
Analisis Pasar: Dana IPO Bukan Jaminan Kesuksesan
Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menganalisis bahwa perjalanan masing-masing emiten IPO jumbo membuktikan bahwa besarnya dana yang berhasil dihimpun saat penawaran umum perdana bukanlah faktor utama penentu kinerja saham setelah melantai di bursa. “Besarnya dana IPO tidak selalu berbanding lurus dengan kinerja harga saham setelah listing. Pada akhirnya yang menentukan adalah pertumbuhan laba, valuasi, kualitas manajemen, serta prospek industrinya,” ujar Edwin dalam analisisnya.
Untuk BUKA, Edwin menilai perubahan strategis perusahaan terlihat jelas dengan peralihan fokus ke efisiensi operasional dan mengandalkan posisi kas yang kuat. Namun, perseroan masih membutuhkan katalis pertumbuhan yang lebih nyata dan konkret untuk dapat mengembalikan kepercayaan pasar dan mendorong revaluasi terhadap sahamnya. “BUKA masih membutuhkan katalis pertumbuhan yang lebih nyata agar dapat mengembalikan kepercayaan pasar,” ucapnya.
Untuk GOTO, Edwin menilai bahwa perusahaan telah memasuki babak baru dengan fokus utama pada pencapaian profitabilitas. Meskipun perbaikan fundamental sudah terlihat, perseroan masih menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan pertumbuhan bisnis di tengat ketatnya persaingan dari Grab, ShopeeFood, dan platform digital lainnya seperti TikTok. Strategi diferensiasi dan efisiensi biaya akan menjadi kunci kesuksesan jangka panjang.
Di luar sektor teknologi, Edwin menyebut MTEL sebagai salah satu IPO jumbo dengan kualitas fundamental terbaik karena memiliki beberapa keunggulan kompetitif. Perseroan menghasilkan pendapatan berulang yang dapat diprediksi, memiliki kontrak jangka panjang yang memberikan visibilitas cash flow, arus kas yang stabil, dan margin keuntungan yang tinggi. Kombinasi faktor-faktor ini menjadikan MTEL sebagai pilihan investasi defensif yang menarik bagi investor konservatif.
Sementara itu, Edwin menilai AMMN sebagai emiten dengan prospek paling menarik hingga akhir tahun 2026. Menurutnya, perusahaan memiliki kombinasi katalis yang kuat dan saling mendukung. Cadangan tambang yang jangka panjang memastikan kesinambungan produksi, pembangunan smelter akan meningkatkan nilai tambah produk, sementara hilirisasi akan membuka peluang revenue stream baru. Di saat yang sama, permintaan global terhadap tembaga dan emas terus meningkat sejalan dengan perkembangan kendaraan listrik, pusat data, teknologi kecerdasan buatan, dan investasi energi terbarukan yang masif.
Meski demikian, Edwin mengingatkan bahwa investor tetap perlu disiplin dalam memperhatikan valuasi saham. Ekspektasi pasar terhadap AMMN sudah cukup tinggi, sehingga investor perlu berhati-hati dalam entry point untuk menghindari risiko overpayment dan koreksi harga yang tidak terduga. Analisis fundamental harus tetap menjadi panduan utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Artikel ini merupakan rangkuman berita pasar modal Indonesia.
(JW)

