CAPITALNEWS.ID – Rupiah berhasil mengakhiri perdagangan awal pekan dalam zona positif terhadap dolar Amerika Serikat, tercermin dari penguatan mata uang lokal sebesar 0,39% ke level Rp17.835 per dolar AS pada penutupan Senin (29/6/2026).
Pergerakan rupiah yang positif ini terjadi di tengah koreksi yang dialami indeks dolar AS di pasar global. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah konsisten berada di zona penguatan sejak pagi. Kurs rupiah bergerak dalam rentang level Rp17.825 hingga Rp17.880 per dolar sampai akhir sesi.
Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tercatat mengalami tekanan dengan koreksi sebesar 0,15% ke level 101,203. Pelemahan indeks dolar ini memberikan ruang bagi sejumlah mata uang negara lain, termasuk rupiah Indonesia, untuk bergerak positif di pasar valuta asing global.
Dolar Masih dalam Tren Penguatan Jangka Panjang
Meskipun terjadi koreksi sementara, posisi dolar AS tetap relatif kuat secara fundamental. Greenback masih berada dalam tren penguatan bulanan terbesar dalam hampir setahun terakhir. Penguatan ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain ketegangan geopolitik di kawasan Teluk yang masih tinggi, imbal hasil surat utang AS yang tetap menarik, serta sikap hati-hati dari para pelaku pasar menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dijadwalkan minggu ini.
Dari aspek geopolitik, Amerika Serikat dan Iran kembali saling melontarkan pernyataan keras pada akhir pekan lalu. Namun, perkembangan positif muncul ketika kedua negara itu sepakat menghentikan serangan balasan dan menjadwalkan pertemuan di Qatar pada Hari Selasa. Kondisi ini membuat pelaku pasar masih mencermati keberlanjutan gencatan senjata tersebut dan dampaknya terhadap pasar keuangan global.
Prioritas Stabilitas Makroekonomi Domestik
Di level domestik, sejumlah pemimpin DPR menggelar pertemuan dengan pejabat-pejabat kunci yang bertanggung jawab menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Senin (29/6/2026). Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun, Ketua Banggar Said Abdullah, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu menekankan bahwa menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka pendek menjadi prioritas utama pemerintah. Hal ini terutama penting mengingat dampak gejolak harga komoditas strategis seperti minyak mentah yang berisiko meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat luas.
“Ada kesepakatan saya rasa yang tercapai bahwa yang penting menjaga kestabilan makro ekonomi di jangka pendek karena kita sudah melihat dampak ketidakpastian global, misalnya harga minyak meningkat dan dampaknya ke inflasi dan daya beli di masyarakat. Sehingga ini menjadi prioritas untuk menjaga kestabilan makro,” ujar Mari Elka Pangestu.
Mari juga menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan investor terhadap Indonesia, terlebih karena tekanan terhadap rupiah masih perlu diwaspadai. Dia mengatakan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar lebih besar dibandingkan dengan mata uang negara-negara sejenis lainnya, sehingga diperlukan perhatian khusus dalam menjaga kepercayaan dan trust dari investor global.
“Pelemahan rupiah lebih dari peers kita, berarti kita harus waspadai bagaimana menjaga issue confidence dan trust dan itu tak terlepas dari kebijakan-kebijakan yang diambil masing-masing lembaga yang bertanggung jawab,” katanya.
Bank Indonesia Terapkan Strategi Ganda
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa BI fokus pada menjaga kecukupan likuiditas di sistem perekonomian agar tidak terjadi gejolak di pasar uang dan pasar valuta asing. Strategi ini melibatkan ekspansi moneter yang signifikan dalam dua bulan terakhir.
“Kalau kita lihat di akhir bulan Mei ekspansi yang kami lakukan sekitar Rp600 triliun maka di akhir bulan Juni ini kami sudah melakukan ekspansi hingga Rp1.000 triliun, khusus itu untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita,” jelas Destry Damayanti.
Untuk menjaga stabilitas kurs rupiah, Bank Indonesia telah menyesuaikan arah kebijakan moneter dengan menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir, membawa suku bunga acuan ke level 5,75%. Langkah ini diambil untuk meningkatkan daya tarik instrumen investasi dalam rupiah bagi investor asing.
Selain itu, BI juga menyesuaikan harga instrumen operasi moneter guna menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Hasilnya cukup positif, dengan aliran dana asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SRBI) sepanjang tahun 2026 hingga 26 Juni mencapai sekitar 9 miliar dolar Amerika.
“Dalam satu bulan di bulan Juni ini telah terjadi inflow yang cukup signifikan sehingga secara year to date dari Januari hingga 26 Juni, inflow yang masuk untuk di portofolio SBN dan SRBI kita itu sudah mencapai sekitar 9 miliar USD,” paparnya.
Performa Indeks Pasar Modal
Sementara rupiah menguat, indeks-indeks pasar saham Indonesia menunjukkan performa yang lebih lemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,28% ke level 5.820,79. Indeks LQ45 koreksi 1,84% ke posisi 573,007. Indeks Jakarta Islamic Index (JII) menurun 1,14% ke level 338,419.
Indeks Pefindo i-Grade mengalami penurunan terbesar dengan koreksi 2,11% ke level 142,659. Indeks Sri-Kehati turun 1,57% ke level 285,023, sementara IDX 30 berkurang 1,84% ke posisi 325,232. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turun 0,84% ke level 201,239.
Strategi-strategi yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia ini diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut. Koordinasi antar lembaga ekonomi menunjukkan komitmen untuk melindungi kepentingan investor dan stabilitas perekonomian nasional.
Artikel ini merupakan rangkuman berita pasar modal Indonesia.
(JW)
