Rupiah Melemah ke Rp17.995, Kepercayaan Investor Terguncang

CAPITALNEWS.ID – Rupiah mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (2 Juli 2026), mencerminkan merosotnya kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Mata uang Garuda ditutup di level Rp 17.995 per dolar AS di pasar spot, terdepresiasi 0,25% dari posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.952 per dolar AS.

Senada dengan data pasar spot, kurs rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan tren melemah. Pada saat yang sama, JISDOR tercatat berada di posisi Rp 17.994 per dolar AS, mengalami penurunan 0,18% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia sedang menghadapi ujian berat akibat munculnya sejumlah sentimen negatif yang membayangi masuk ke kuartal II 2026. Berbagai faktor tekanan telah menggerogoti optimisme pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

Menurut Ibrahim, ujian kepercayaan investor dimulai dari kasus korupsi tingkat tinggi yang menyoroti masalah tata kelola di tingkat atas, kekhawatiran mendalam terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah data neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei mencatat defisit, serta membengkaknya tekanan inflasi. Selain itu, penundaan pengumuman mengenai penyertaan indeks pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI juga menambah ketidakpastian di pasar.

Beban tekanan rupiah semakin diperberat oleh melemahnya kinerja sektor manufaktur Indonesia. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun signifikan ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka ini menandai tingkat penurunan paling kuat dalam kuartal terakhir, dengan pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan volume output tercatat mengalami penurunan terbesar sejak bulan April 2025.

S&P Global mengungkapkan bahwa PMI Indonesia pada Juni menunjukkan penurunan berkelanjutan pada kesehatan sektor produksi barang. Lembaga rating menjelaskan bahwa penyebab utama penurunan di bulan Juni adalah menurunnya permintaan atas produk manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan berturut-turut dan tercatat terjadi pada laju penurunan tercepat dalam satu tahun terakhir.

Ibrahim menekankan bahwa sentimen negatif juga berasal dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings, yang memproyeksikan cadangan devisa Indonesia pada tahun 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Proyeksi ini dinilai sedikit di bawah median negara yang memiliki peringkat kredit BBB dari Fitch.

Menurut analisis Fitch, penurunan cadangan devisa Indonesia dipengaruhi oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi di pasar global. Selain itu, intervensi Bank Indonesia di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah dan pembayaran utang luar negeri juga berkontribusi pada pengurangan cadangan devisa nasional.

Dari sisi eksternal, pasar global terus mencermati arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan bahwa peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mendatang mencapai sekitar 67%. Ekspektasi ini meningkatkan tekanan pada mata uang-mata uang berkembang termasuk rupiah.

Data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis sebelumnya menunjukkan hasil yang beragam dan tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi. Perubahan ketenagakerjaan sektor swasta versi ADP pada Juni hanya bertambah 98.000 tenaga kerja, jauh lebih rendah dari ekspektasi konsensus pasar yang memperhitungkan penambahan 113.000 tenaga kerja. Sementara itu, aktivitas manufaktur Amerika Serikat juga menunjukkan perlambatan yang menjadi perhatian analis.

Untuk perdagangan Jumat (3 Juli), fokus pasar akan tertuju pada rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat, yang merupakan indikator ketenagakerjaan paling dinanti-nantikan pasar global. Konsensus pasar memperkirakan penambahan tenaga kerja sebesar 110.000 dengan tingkat pengangguran diproyeksikan tetap bertahan di level 4,3%.

Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.990 hingga Rp 18.050 per dolar AS pada perdagangan Jumat (3 Juli). Proyeksi range ini menunjukkan volatilitas yang tinggi mengingat berbagai faktor domestik dan eksternal yang terus memberikan tekanan pada mata uang Indonesia.

Situasi ini menekankan pentingnya bagi investor untuk tetap waspada dan memantau perkembangan terkini mengenai kebijakan moneter global, kondisi fiskal nasional, dan data-data ekonomi utama yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek maupun menengah.

Artikel ini merupakan rangkuman berita pasar modal Indonesia.

(JW)

Exit mobile version