CAPITALNEWS.ID – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings secara resmi menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk obligasi senior tanpa jaminan (medium-term note/MTN) yang diterbitkan oleh PT Danantara Investment Management (DIM). Obligasi dengan denominasi mata uang dolar Amerika Serikat ini memiliki nilai sebesar US$5 miliar, setara dengan Rp 89,49 triliun berdasarkan nilai tukar Rp 17.899 per dolar.
Peringkat Baa2 yang diberikan Moody’s kepada DIM mencerminkan keterkaitan kredit yang kuat antara perusahaan dengan pemerintah Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa PT Danantara Investment Management merupakan entitas usaha dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anangata Nusantara (Danantara), yang merupakan badan usaha milik negara.
Dalam penilaian Moody’s, peringkat obligasi senior tanpa jaminan dalam mata uang dolar AS yang dikeluarkan oleh DIM ini diberikan berdasarkan program obligasi jangka menengah (MTN) global senilai US$5 miliar yang telah diberi peringkat (P)Baa2. Prospek atau outlook dari peringkat tersebut ditetapkan pada posisi negatif, mengindikasikan potensi penurunan rating di masa depan.
Moody’s juga menjelaskan bahwa lembaga tersebut belum memberikan penilaian kredit dasar atau baseline credit assessment (BCA) kepada DIM. Alasannya ialah karena PT Danantara Investment Management merupakan perusahaan yang masih baru beroperasi, belum memiliki rekam jejak operasional yang cukup panjang, dan juga belum beroperasi sebagai entitas usaha yang mandiri dari induknya.
“Peringkat tersebut terutama didorong oleh keterkaitan dengan pemerintah daripada kekuatan kredit mandiri,” demikian penjelasan dari Moody’s Ratings dalam laporannya.
Meskipun demikian, Moody’s memberikan penilaian positif terhadap posisi likuiditas PT Danantara Investment Management. Lembaga pemeringkat internasional ini menilai bahwa likuiditas DIM berada pada tingkat yang sangat baik. Likuiditas di tingkat holding didukung sepenuhnya oleh suntikan ekuitas (capital injection) yang diterima dari BPI Danantara dalam upaya memperkuat modal perusahaan.
Selain itu, PT Danantara Investment Management juga telah berhasil membangun saluran pendanaan eksternal yang beragam untuk mendukung operasional dan ekspansi bisnisnya. Saluran pendanaan tersebut mencakup penerbitan obligasi perdananya yang bernilai US$1,5 miliar atau setara dengan Rp 68,4 triliun, yang diperoleh melalui penerbitan Obligasi Patriot, serta fasilitas kredit bergulir sebesar US$10 miliar di mana US$1 miliar telah dikomitmenkan oleh pihak kreditor.
Dana-dana yang berhasil dihimpun melalui berbagai mekanisme pendanaan tersebut digunakan untuk mendukung dana kelolaan swasta (private fund management) dan investasi strategis di sektor properti. Menurut analisis Moody’s, anak usaha dari BPI Danantara ini diperkirakan akan melakukan penarikan dana tambahan untuk meningkatkan modal usaha dalam periode mendatang.
Posisi likuiditas PT Danantara Investment Management juga diproyeksikan akan tetap terjaga dengan baik dalam jangka pendek hingga menengah. Hal ini disebabkan karena perusahaan tidak memiliki kewajiban pembayaran dividen kepada pemegang saham, dan juga tidak memiliki jadwal jatuh tempo utang selama dua hingga tiga tahun ke depan. Struktur pendanaan yang demikian memberikan kefleksibilan finansial yang cukup bagi DIM untuk menjalankan operasional dan melakukan investasi strategis tanpa tekanan pembayaran yang signifikan dalam waktu dekat.
Penilaian Moody’s terhadap DIM ini menjadi indikator penting bagi investor baik domestik maupun internasional yang tertarik untuk menginvestasikan dananya dalam instrumen obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan manajemen investasi milik negara tersebut. Rating Baa2 termasuk dalam kategori investment grade, yang berarti obligasi DIM masih dianggap memiliki risiko kredit yang dapat diterima oleh sebagian besar investor institusional.
Artikel ini merupakan rangkuman berita pasar modal Indonesia.
(JW)
